BERITA
  • 16 Februari 2021
  • 0 Komentar
  • 532 Kali Dilihat
KEGIATAN KAMPUNG TANGGUH NESTLE DAN SOSIALISASI 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN HPK DALAM RANGKA MENURUNKAN STUNTING TINGKAT KABUPATEN PRINGSEWU

Pringsewu, 28/01/2021--Gizi merupakan salah satu komponen yang harus dipenuhi suatu bangsa untuk mewujudkan masyarakat yang sehat, terutama pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan. Balita yang mengalami kekurangan gizi kronis akan mengalami stunting. Anak yang stunting akan memiliki tinggi badan di bawah standar pertumbuhan anak normal seusianya. Stunting menjadi ancaman besar bagi negara, karena stunting pada anak balita dapat menggangu perkembangan otak (kognitif). Hal ini akan menurunkan prestasi anak dalam pendidikan yang pada akhirnya akan berdampak menurunnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa Indonesia. Kegiatan ini juga sekaligus memperingati Hari Gizi Nasional (HGN) ke-61 pada Tanggal 25 Januari 2021 , dengan tema “Remaja Sehat Bebas anemia “ merupakan salah satu upaya pencegahan stunting, kita dapat bersama-sama melakukan langkah strategis memperbaiki status gizi masyarakat dengan menurunkan stunting, sebagai investasi bangsa untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing tinggi di dunia.

 

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi ini terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah anak lahir, tetapi stunting baru nampak setelah anak berusia 2 tahun.

 

Berdasarkan hasil PSG tahun 2016 tersebut prevalensi balita underweight sebesar 17 %, balita wasting sebesar 7,7% dan balita stunting sebesar 25,7 %. Meski prevalensi stunting di Kabupaten Pringsewu lebih rendah dibandingkan angka provinsi dan nasional (Prevalensi stunting di Indonesia sebesar 27,5% dan di Provinsi Lampung sebesar 24,8%) namun cenderung mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2015 (21,2%). Sedangkan berdasarkan hasil PSG Tahun 2017 Prevalensi stunting di Kabupaten Pringsewu juga mengalami peningkatan menjadi 25,8% dan berdasarkan Riskesdas tahun 2018 kembali mengalami penurunan 20,19 % dan berdasarkan data hasil entry E PPGBM (aplikasi kemenkes) prevalensi stunting Tahun 2019 menurun di Kabupaten Pringsewu yaitu 10,37 % dan di 2020 prevalensi stunting 8,38 % (2.414 balita stunting)  Hal tersebut dapat menghambat upaya peningkatan kesehatan masyarakat dan pembangunan kualitas sumber daya manusia khususnya di Kabupaten Pringsewu.

 

Upaya penurunan stunting intervensi memerlukan yang terpadu, yaitu dilakukan melalui dua intervensi, yaitu intervensi gizi spesifik untuk mengatasi penyebab langsung dan intervensi gizi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung. Selain mengatasi penyebab langsung dan tidak langsung, diperlukan prasyarat pendukung yang mencakup komitmen politik dan kebijakan untuk pelaksanaan, keterlibatan pemerintah dan lintas sektor,

Sejalan dengan inisiatif Percepatan Penurunan Stunting, pemerintah meluncurkan Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi (Gernas PPG) yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 42 tahun 2013 tentang Gernas PPG dalam kerangka 1.000 HPK. Selain itu, indikator dan target penurunan stunting telah dimasukkan sebagai sasaran pembangunan nasional dan tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 – 2024 yaitu penurunan prevalensi Stunting (pendek) 14% dan penurunan prevalensi wasting (kurus) yaitu 7 % .

 

Kegiatan Kampung Tangguh Nestle dan Sosialisasi 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dilaksanakan dalam rangka menurunkan stunting tingkat Kabupaten Pringsewu.  Kegiatan ini melibatkan berbagai sektor terkait dengan harapan dapat mewujudkan Pringsewu sehat bebas Stunting.

 

editor